Sampai setelah setahun berlalu, di sinilah aku. Masih Unemployment aka pengangguran. Setahun terakhir ini adalah masa yang lebih sulit dari pada ujian nasional+sbmptn+ujian skripsi. Iya, kurang lebih seperti itulah.
Mempertahankan mood dan mental lebih sulit di fase ini, karena kita dituntut menjawab rentetan pertanyaan “Udah dapat panggilan? Udah melamar dimana?” dan sejenisnya. Pertanyaan yang lama-lama membosankan jawabanya. Sampai rasanya pengen jawab, “Udahlah tunggu aja syukurannya” atau “Adalah pokoknya” atau “Udah lah ga perlu tau”. Hehehe.
Itulah sisi gelapnya Unemployment. Ok, cukup.
Seandainya diteruskan untuk mengeluh, akan ada sebukit keluhan yang ujung-ujungnya berakhir di penyesalan. Emosi yang negatif itu malah membuat diri sendiri kehabisan energi, hilang semangat dan mematikan kreatifitas. Di sinilah emosi positif yang harus kita ciptakan sendiri.
Suatu waktu pernah terpikir, ini ga adil, kenapa teman yang usahanya biasa aja waktu di sekolah, waktu kuliah tapi malah lebih duluan dapat kemudahan berupa pekerjaan. Tapi coba lihat disisi lain, kita ga pernah tau rahasia Tuhan. Mungkin dia yang belajarnya kurang malah ibadahnya yang lebih kuat. Rezeki tiap orang berbeda dan jalan sukses tiap orang juga beda.
Sekarang? Aku punya 24 jam x 7 hari waktu luang yang bisa aku gunakan untuk menyalurkan hobi, meningkatkan ibadah, istirahat, jalan-jalan.
Setelah 3 tahun SMA di boarding school + 4,5 tahun kuliah di luar kota, Aku bersyukur banget setahun ini sama mamaku terus, sering ketemu keponakan yang makin hari makin ada ada aja kelakuannya. Apalagi dalam setahun terakhir ini 3 orang tersayang di keluarga besar mama dipanggil Yang Maha Kuasa dalam jarak waktu yang berdekatan. Berat kan jauh-jauh lagi dari orang tua apalagi mama.
See? Status Unemployment aka pengangguran bukan sebuah kondisi yang menjadikan kita seperti pengemis atau sarjana tidak berguna. Malahan ini waktunya kita belajar menjadi lebih positif dan bersyukur. Unemployment aka pengangguran adalah kemerdekaan untuk menemukan hal yang baru. Nikmatnya lebih besar daripada meratapi omongan tetangga atau pertanyaan keluarga bahkan teman-teman lain.
Aku yakin “Bahagia itu dari diri sendiri”. Apapun yang kita lalui kita yang merasakan sendiri, jadi kita sendiri juga yang membuat ini musibah atau berkah. Semua tergantung dari sudut pandang dan sikap yang kita ambil. Jika kita memilih untuk bersyukur, inilah terbaik. Inilah saatnya untuk meningkatkan diri kita untuk jadi lebih baik, menemukan perkerjaan yang terbaik dan bahagia.